Apakah Hidup Ini Adil?

Mungkin di antara kita ada yang merasa heran, telah banyak berusaha dan berdoa tetapi kesuksesan tak kunjung menghampiri bahkan sering sekali mengalami kegagalan. Padahal kita telah berbuat baik sesuai apa yang Tuhan perintahkan.

Di saat demikian,kebanyakan orang menyalahkan Sang pencipta. Menganggap Tuhan tak perhatian lah, tak adil lah, dll.Percayalah, Tuhan itu memperhatikan semua ciptaannya.Ya semua,,,hingga semut yang ada di lubang terkecilpun tak luput dari penglihatannya.Bahkan waktu gugurnya daun tuapun telah Tuhan tetapkan.Subhanallah,begitu perhatiannya Pencipta kita.Yakinlah bahwa Dia mempunyai rencana terindah untuk kita.Semua doa itu akan dikabulkan atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita doakan. Dan jangan pernah menganggap bahwa Tuhan tak adil.

Beranggapan bahwa Tuhan tidak adil akan mengakibatkan ketidakbahagiaan. Hal itu bisa membuat kita cenderung keluar dari lingkaran kebaikan. Kita tidak akan menemukan apa yang kita cari dalam hidup ini , yaitu kebahagiaan sejati.

Hidup ini adil, karena diciptakan oleh Tuhan yang maha adil. Sedangkan dunia bisa tidak adil, karena di dalam dunia bukan cuma Tuhan yang berperan tapi juga manusia.

Manusia sering tidak memahami hukum alam. Hukum alam adalah sesuatu yang pasti. Orang yang melakukan kebaikan akan mendapat kebaikan, begitu juga orang yang melakukan keburukan akan mendapat keburukan. Tapi kapan terjadinya, ada time of respon, ada tenggat waktu, ada jarak.

Ada 4 faktor yang membuat munculnya anggapan bahwa hidup ini tidak adil:
1. Karena hanya melihat akhirnya saja.
Misalnya, kita mempertanyakan mengapa seorang penyanyi dibayar mahal hanya untuk menyanyikan beberapa buah lagu?. Kita tidak melihat proses yang ia lalui untuk menjadi/mencapai seperti itu. Kita hanya melihat hasil akhirnya saja.
2. Karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya melihat luarnya saja.
Misalnya, kita melihat rumah tangga seseorang sangat harmonis, padahal pasangan tersebut sedang mencari cara agar tidak bercerai. Kita melihat keluarga kerajaan hidup enak dan bahagia. Padahal belum tentu. Ingat Lady Diana, ia menderita bulimia kaerna stres, hidupnya pun berakhir dengan tragis.
3. Karena hanya melihat apa yang terjadi di jangka pendek. Cerita belum selesai tapi kita sudah menyimpulkan.
Misalnya, kita menganggap orang yang korupsi jadi kaya, kalaupun dihukum ringan. Cerita belum selesai. Jangan cepat-cepat menyimpulkan bahwa koruptor itu sudah menjadi pememang. Walau selamat dari hukum manusia (formal konsekuensi), tapi sepanjang hidupnya dia akan melekat dipandang sebagai koruptor.
4. Karena tidak bisa membedakan apa yang disebut “formal konsekuensi” dengan “natural konsekuensi”. Formal konsukensi adalah hukum dari manusia, sedangkan natural konsekunesi adalah hukum dari alam.
Misalnya, karyawan yang berbuat curang tidak mendapat sanksi dari atasannya, atau pasangan suami istri ada yang selingkuh tapi didiamkan saja oleh pasangannya. Kita tidak melihat adanya formal konsekuensi dalam contoh tersebut, tapi percayalah natural konsekuensi akan terjadi karena ada ‘tangan’ Tuhan disana.

Percayalah bahwa hidup ini adil, karena diciptakan oleh Tuhan yang maha adil. Dan Tuhan melengkapinya dengan hukum alam. Bukalah hati dan pikiran untuk melihat hukum alam tersebut.
*terinspirasi dari salah satu topik dalam smart happiness

2 Comments (+add yours?)

  1. nickfey_hamasah
    May 16, 2011 @ 14:51:48

    Yupz…..always believe that Allah adalah sutradara terhebat untuk hidup qt,,hehe…
    Smangaaaad sist;))

    Eh,,ni blog baruku#yg lama msh ada sih#, tukeran link yak….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: